Minggu, 17 November 2013

Seconds Before Farewell

Kita hidup di dunia hanya untuk sementara, yang terpenting adalah bagaimana kita dapat menjalin sebuah hubungan yang baik dengan sesama kita manusia melalui sebuah pertemanan. Begitu pula denganku, aku sangat menghargai arti seorang teman, karena bagiku teman adalah hadiah terindah yang pernah Tuhan berikan sebagai pendamping hidupku di dunia ini. Tak ada satupun alasan kita untuk tidak berteman. Untuk itu, jika seseorang ingin berteman denganmu, baik dia jelek, bodoh, atau miskin, bukalah hatimu juga untuk berteman dengannya. Ingat, pertemanan yang sukses itu bukan berasal dari keluarga kaya, pintar, atau tampan/cantik, pertemanan yang sukses itu berasal dari sikap saling menghargai, mengerti, dan percaya! Carilah teman sebanyak-banyaknya selama kita masih bisa menghirup nafas kehidupan yang Tuhan berikan kepada kita. Agar kelak ketika kita sudah tiada lagi di dunia ini, setidaknya banyak orang yang akan menangisi kepergian kita sekaligus berharap agar kita diterima di sisi-Nya. “Sebuah pertemanan diawali dengan pertemuan dan senyuman, kemudian diakhiri dengan perpisahan dan airmata”

Dalam cerita kali ini, aku akan berbagi kisah hidupku yang kurangkum untuk kemudian bisa dibaca oleh banyak orang agar kemudian orang tersebut tahu bagaimana aku mengawali kisah pertemananku dan juga bagaimana aku mengakhirinya. Dari sekian judul yang terpikir di benakku, aku memilih “Seconds Before Elementary School Farewell” sebagai judul yang menurutku sangat tepat untuk kisah hidupku yang satu ini.
SD Swasta Free Methodist 1 Medan adalah tempat di mana aku memulai pendidikanku. Saat itu aku ditempatkan di kelas IC. Di awal masuk sekolah, aku sangatlah gugup, aku malu berjumpa dengan orang-orang baru yang sangat asing bagiku. Saat itu aku belum sadar kalau aku akan bersama dengan mereka selama 6 tahun. Awalnya aku duduk sebangku dengan teman sepermainanku di rumah yang kebetulan teman sekelasku, namanya Pesta Ria Nababan, kami memanggilnya Susan. Selama dua minggu, aku hanya berteman dengan Susan, tidak memperdulikan teman-temanku yang lain. Hingga akhirnya aku mengenal Herman Lumbantoruan yang kemudian menjadi teman dekatku. Sejak saat itu, aku mulai membuka hatiku untuk berteman dengan yang lain, ada beberapa teman sekelasku yang akhirnya kukenal di luar sekolah, contohnya Kristi Emelia Pasaribu, aku mulai berteman dekat dengannya di sekolah setelah aku mengenalnya di gereja, saat itu kami ada kegiatan menggambar bersama bagi anak sekolah minggu, saat itulah dia kemudian menyapaku dan senyum padaku, kemudian aku balas menyapanya sambil tersenyum pula.

Saat caturwulan tiga di mulai, di saat itulah aku mengenal Billy Andreas Parangin-angin, dia merupakan siswa pindahan dari sekolah lain. Sebelum Billy masuk, kami juga mendapatkan teman baru yang juga merupakan siswa pindahan dari sekolah lain, namanya Melania Regina Pasaribu. Aku masih ingat, di awal mereka bergabung dengan kami, Ibu Simanjuntak yang merupakan guru kelas IC dan IIC, selalu menempatkan siswa baru sebangku denganku, mungkin karena aku merupakan siswa yang paling mudah bergaul pada saat itu.

Di tahun keempat aku bersama teman-temanku, aku mulai bisa mengerti sifat dan sikap mereka. Aku membatasi pertemananku bagi sebagian orang yang menurutku kami tidak cocok sama sekali, selalu berbeda pendapat, dan tidak satu pikiran. Di tahun keempat juga aku mulai mengenal kata sahabat. Aku bersahabat dengan Billy, Melani, Kristi, Artia, Vriscilya, Christian, dan Susan. Aku merasa cocok dan nyaman berteman dengan mereka. Aku masih ingat beberapa kenangan yang menurutku spesial dari mereka satu per satu.

Billy, dari awal kamu bergabung dengan kami, khususnya sebangku denganku, aku bisa merasakan sisi baikmu. Aku masih ingat, di pagi hari saat kamu datang ke sekolah dalam keadaan sakit flu, sebelum ibumu pulang sehabis mengantarmu, dia memberikanmu obat sirup, kemudian memberikannya juga padaku. Kita pun semakin dekat sejak saat itu. Hari-hari kita lalui bersama, aku sering bermain ke rumahmu untuk bermain mobil Tamiya, karena pada saat itu kamu memiliki jalur khusus mobil Tamiya di rumah. Kemudian sejak sekolah kita membuat lapangan basket, kita jadi sering bermain basket di sekolah dengan bola basket yang kamu miliki, meskipun hanya berdua. Aku masih ingat kita sering bermain sepeda bersama di siang hari, pernah tukaran binder, mengikuti kegiatan berenang dari sekolah di Kolam Renang Kartika dengan Pak Habeahan, kita bukannya berenang, malah saling gendong-menggendong di kolam, mencolek paha beberapa teman cewek kita sambil tertawa. Aku masih ingat itu semua. Aku juga masih ingat sebelum akhirnya kamu pergi ke Jakarta untuk melanjutkan sekolahmu di sana,  kita semakin dekat dan sering bertemu, sebuah pertanda akan ada perpisahan. Aku sangat merindukanmu sobat.

Melani, banyak hal positif yang kudapat sejak aku mengenalmu. Tulisanku saat ini dikatakan orang rapi, itu semua karena aku pernah menjadikanmu sebagai motivasi dalam hidupku. Aku meniru tulisanmu ketika kita masih duduk sebangku di caturwulan dua. Aku masih ingat kita sering pulang jalan bareng sejak kamu tidak lagi naik becak langgananmu. Terkadang kita sengaja lewat Jl. Kemuning untuk bisa memperlama percakapan kita. Hal itu kita lakukan selama setahun lebih. Aku juga masih ingat kalau aku pernah cinta samamu. Aku masih ingat kalau kamu pernah memberikanku uang seribu rupiah yang kemudian kusimpan di sebuah kotak perhiasan sebagai kenang-kenangan dari cewek yang merupakan cinta pertamaku, tapi aku tidak tahu lagi di mana uang tersebut karena kotak perhiasan itu hilang. Aku juga masih ingat ketika aku datang ke rumahmu, kau mengajakku ke belakang rumahmu untuk melihat beberapa domba peliharaan keluargamu. Aku kangen bisa membicarakan segalanya denganmu seperti dulu.

Kristi, bagiku kamu memang orang yang baik dan ramah. Aku masih ingat ketika aku datang membawa teman-temanku tahun-baruan ke rumahmu, kamu menyambut kami dengan senyummu, mempersilahkan kami masuk, menyediakan banyak makanan dan minuman. Aku juga masih ingat ketika perpustakaan daerah di depan rumahmu baru dibuka, kamu mengajak kami teman sekelasmu, untuk datang berkunjung ke sana. Sebelum kita ke perpustakaan, kita masak indomie di rumahmu, naik ke atas rumahmu sambil bercerita dengan teman-teman yang lain. Aku juga masih ingat, di tahun terakhir kita bersama, saat itu kita pergi bersepeda di siang hari yang terik bersama Billy, Susan, dan Melani. Saat itu sepedaku rusak, jadi aku menumpang dengan salah satu dari kalian. Awalnya aku bersama Susan saat itu, kemudian kita semua pergi ke Jl. Lembaga Permasyarakatan-Sukadono, mengunjungi rumah David dan Vriscilya, teman sekelas kita yang merupakan tetangga dekat. Kemudian kita pergi menuju bihara Katolik Tanjung Gusta bersama mereka, kita habiskan waktu selama berjam-jam di sana. Kemudian ketika ingin pulang, akhirnya aku menumpang di sepedamu. Saat itu tiba-tiba ban sepedamu kempes di daerah simpang Tanjung Gusta, kita ketinggalan jauh dari  teman-teman kita. Untuk mempercepat waktu, kita terpaksa ganti-gantian mengendarai sepeda tersebut, satu orang di sepeda, yang satu lagi berjalan cepat. Aku minta maaf karena merepotkanmu saat itu. Mungkin kalau saat ini hal itu terulang lagi, aku tidak akan pernah membiarkanmu berjalan, aku akan membiarkanmu di sepeda tersebut agar kamu tidak lelah. Aku sangat merindukanmu.

Artia, aku masih ingat ketika pembagian raport, kita pasti sudah bisa menduga kalau ranking kita akan berdampingan. Jika kamu ranking 5, aku ranking 6, jika aku ranking 7, kamu ranking 8. Aku juga masih ingat tulisanmu yang lucu dan unik. Aku sangat merindukan kebersamaan kita.

Christian, banyak hal yang kita lakukan di kelas IV. Kamu sering datang ke rumahku pada saat itu untuk sekedar bermain. Kita pernah tidur siang bersama di rumahku, makan indomie bersama, juga bermain layang-layang. Sederhana memang, tapi aku masih mengingat semua hal itu.

Vriscilya, suaramu yang indah mampu membuat semua pendengar terpukau. Aku masih ingat ketika Natal sekolah kamu menyanyikan sebuah lagu rohani sambil menangis, pertanda bahwa kamu sangat mendalami lagu tersebut. Aku masih ingat dulu ibumu setiap harinya antar-jemput kamu dan adikmu. Aku juga masih ingat kalau saat itu ibumu sering mengajakku bercanda. Aku masih ingat ketika kita latihan dance di rumah David dan semua kenangan yang ada di dalamnya. Aku merindukanmu.

Susan, ada apa denganmu sobat? Kenapa kamu sombong sekali sekarang? Aku sangat merindukan kebersamaan kita, aku sangat merindukan curhatanmu tentang cowok yang kamu cintai, aku juga masih ingat dulu kita sering bermain sepeda ke mana saja kita ingin pergi. Aku masih ingat dulu ibumu selalu melarangmu bermain denganku tapi kamu malah mengatakan, “Udah ta, gak usah kau dengarkan orang kek gitu.” Aku masih ingat itu semua Susan! Tapi kenapa sekarang kamu berbeda? Tidakkah kamu merindukan kebersamaan kita?

Di kelas VI, aku juga bergaul dengan siswa kelas lain. Aku mengenal Daniel, Budi, Tito, Nanda, dan Rico yang kemudian menjadi teman dekatku juga saat itu. Aku masih ingat kalau kami sering berkunjung ke rumah Daniel untuk bermain PlayStation, makan, atau bermain smackdown di kamar Daniel. Aku juga masih ingat ketika kami bermain TopScore, siapa yang kalah satu poin, dia harus membuka salah satu pakaiannya. Jadi jika kalah beberapa poin, orang yang kalah tersebut harus membuka beberapa pakaian yang digunakannya. Saat itu aku kalah banyak poin, memaksaku untuk membuka hampir seluruh pakaianku, hingga akhirnya permainan usai setelah yang tertinggal dariku hanyalah celana dalam saja. Meskipun aku selalu kalah, aku tetap merindukan permainan ini. Aku masih ingat ketika ketika main hide and seek  di sekolah kalau guru les tidak masuk. Budi yang mendapatkan hadiah berupa uang dari Sir Marpaung karena memiliki score yang bagus saat kuis, dan kemudian membagikan uang tersebut kepada kami, teman dekatnya. Aku juga masih ingat ketika Daniel dan Budi tidak saling bercakapan. Aku bingung berpihak pada siapa, hingga akhirnya aku dominan memilih Budi saat itu. Aku juga masih ingat, sebelum kita melanjutkan sekolah ke Sekolah Menengah Pertama (SMP), kita membuat acara perpisahan kecil-kecilan, masak bakwan di kantin Nanda. Bakwan yang kita masak terlalu manis, membuat kami cepat bosan dan kenyang. Aku juga masih ingat ketika aku dan Tito menghadiri acara sunatan Nanda. Kami hanya bisa tertawa melihat keadaan Nanda yang menahan sakit karena biusnya sudah hilang. Nanda juga bercerita, saat itu perawat yang ikut serta dalam penyunatannya sangatlah cantik, itu membuat dia terangsang hingga dokter tertawa melihatnya. Akhirnya karena sudah hampir larut malam, sekitar jam 21.00 WIB, aku dan Tito hendak pulang ke rumah masing-masing. Kami tak mengira sebelum pulang ke rumah, ayahnya Nanda memberikan kami nasi kotak.

Ada begitu banyak cerita di antara kita yang pernah terjalin. Kini semua tinggal kenangan. Biarlah tulisan ini mengingatkan kalian bahwa hingga saat ini aku masih sering merindukan kebersamaan yang pernah kita lalui. “Teman yang baik akan meninggalkan kenangan yang baik pula” 

Dedicated for :
1. Ibu Simanjuntak
2. Pak Habeahan
3. Herman Lumbantoruan
4. Billy Andreas Parangin-angin
5. Melania Regina Pasaribu
6. Kristi Emelia Pasaribu
7. Artia Uli Sinaga
8. Vriscilya Panjaitan
9. Christian Sibuea
10. Pesta Ria Nababan
11. Daniel Simangunsong
12. Budi Talambanua
13. Tito
14. Dian Ananda
15. Rico Hutauruk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar