Aku dan Rio sudah lama bersahabat, sejak dia pindah bersama kedua
orangtuanya ke ruko sebelah rumahku ketika kami masih berumurlima tahun.
Hingga kini keluarga Rio masih tinggal di sana. Ada banyak persamaan
yang membuat aku dan Rio bisa seakrab itu. Aku mengerti Rio, begitu juga
sebaliknya, Rio mengerti aku. Setiap harinya kami selalu
bersama,terkadang aku menginap di rumah Rio, Rio pun demikian. Rio
berasal dari keluarga mapan dan merupakan anak tunggal di keluarganya.
Sedangkan aku, aku hanyalah seorang anak dari keluarga sederhana, yang
memiliki empat saudara. Betapa beruntungnya aku memiliki sahabat seperti
dia. Dari TK hingga SMA kami berada dalam satu sekolah yang sama,
bahkan sekelas. Seperti kata pepatah, ‘kalau memang jodoh, pasti takkan
kemana.’ Sudah terlalu banyak topik yang sering kami jadikan sebagai
bahan pembicaraan, mulai dari masalah pendidikan, politik, uang jajan,
bahkan cita-cita kami yang selalu berubah setiap tahunnya. Kami sering
terjebak dalam percakapan konyol yang kami sendiri tak mampu untuk
menuntaskannya. Akan tetapi ada juga satu hal yang tak pernah kami
bicarakan, yakni cinta! Kami tak pernah bercerita mengenai masalah
percintaan. Aku bahkan tak pernah tahu siapa cinta pertama Rio hingga
saat ini. Ada kalanya aku ingin membahas tentang hal tersebut, akan
tetapi hasratku lebih memilih untuk tidak melakukannya.
Rio merupakan
orang yang baik. Dia menerimaku apa adanya, dia tak malu berteman
denganku yang bergaya culun, yang berbanding terbalik dengan gayanya
yang keren dan disukai banyak cewek. Dia selalu membuat aku senang. Dia
tak pernah perduli dengan hal buruk apa yang dikatakan orang tentang
diriku. Dia bahkan selalu membangga-banggakan aku di depan teman-teman
kami. Itulah yang membuatku sangat menjaga persahabatan ini. Aku tak
pernah perduli dengan mereka yang tidak menyukaiku, aku hanya sangat
terharu dengan apa yang dilakukan Rio terhadapku. Dia sungguh sudah
menganggapku sebagai bagian dari dirinya. Pernah aku berkelahi dengan
salah satu teman SMP kami yang tidak menyukaiku, namanya Gilang. Dia
tidak menyukaiku karena ketika dia mengajak Rio untuk bergabung dengan
kelompoknya, Rio tidak mau dan lebih memilih untuk tetap bersamaku,
karena Rio tahu Gilang hanya ingin memisahkan persahabatan kami.
Perkelahian itu sangatlah tidak adil, saat itu aku hanyalah seorang
diri, sedangkan dia? Dia membawa teman-temannya. Aku dikeroyok
habis-habisan oleh mereka. Perkelahian itu semakin panas ketika Rio
datang menolongku. Saat perkelahian terjadi,terlihat jelas bagaimana
usaha keras Rio untuk membelaku. Perkelahian tidak berlangsung lama
karena tiba-tiba kepala sekolah datang melerai kami. Kami semua yang
terlibat dalam perkelahian segera dibawa ke ruangan kepala sekolah,
diinterogasi, diadili, dan diberikan hukuman.
“Makasi,Yo.
Kalau gak ada loe mungkin gua udah di rumah sakit sekarang ini,” ucapku
memulai percakapan dengannya dalam perjalanan pulang kami dari sekolah.
“Gak
masalah, itulah gunanya sahabat. Selama gua masih hidup, gua gak akan
pernah membiarkan loe diganggu oleh siapapun,” balasnya.
Aku
senang sekali mendengar ucapannya tersebut. Aku sangat bersyukur kepada
Tuhan karena telah memberikanku seorang sahabat yang sangat baik, yang
selalu menemani dan menjagaku di dunia yang bersifat sementara ini. Aku
sungguh sangat menyayangi Rio.
“Yo, kenapa loe baik banget sama gua?” tanyaku padanya.
“Tak ada alasan lain, selain karena gua udah nganggap loe sebagai saudara gua,”jawabnya.
“Thanks banget ya Yo, gua sayang sama loe!” balasku sambil merangkul bahunya.
***
“Yo,
ntar tamat SMA, loe mau lanjut ke universitas mana?” tanyaku padanya
ketika kami sedang asyik nongkrong berdua di salah satu foodcourt di
Merdeka Walk.
“Gua mau nyoba sastra Inggris di Universitas Indonesia,” jawabnya.
“Wuih,
sejak kapan loe suka sastra? Gila aja, serius dong loe! Bukannya loe
mau lanjut ke teknik elektro Polmed?” tanyaku sambil tertawa kecil.
“Iya,
gua serius. Ngapain juga gua bohong. Gua uda lama pengen jadi anak
sastra di sana. Setelah dipikir-pikir, gua lebih baik nyoba sastra
daripada teknik elektro. Lebih sesuai dengan keahlian gua. Kalau loe
sendiri gimana? Loe mau lanjut ke mana?” tanya Rio padaku.
“Oh,
kalau gua sih pengen nyoba Teknologi Informasi di ITB. Peluangnya dikit
banget bisa masuk sana, tapi kalau misalnya ntar gak masuk, gua mau
nyoba Akademi Pariwisata Medan aja, Yo. Gua pengen juga jadi guide
soalnya,” balasku.
“Oh, bagus dong. Ntar kalau lo uda jadi guide, bawa gua traveling ya!” candanya.
“Oke, Yo. Gua pasti bawa loe traveling ntar!” ungkapku.
***
Pada
saat pengumuman kelulusan siswa, aku dan Rio lulus dengan peringkat
yang bagus. Beberapa hari kemudian, kami pergi mendaftar untuk SNMPTN
(Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Setelah mengisi
formulir dan membayar uang pendaftaran, kami pulang kerumah. Malam itu
Rio menginap di rumahku. Seperti biasa, aku sangat senang jika dia
menginap di rumahku. Sebelum tidur, Rio mengajakku mengobrol tentang
suatu hal yang membuatku terdiam tanpa kata.
“Eh,kalau
ntar gua diterima di Universitas Indonesia, terus loe juga diterima di
ITB atau Akpar Medan, kita jadi jarang jumpa dong. Gua di mana, loe di
mana. Wah, gua bakalan kesepian pasti di sana. Biasanya tiap hari sama
loe, nantinya gak lagi. Dari kecil kita udah sama tiap hari, gua gak
yakin kalau ntar gua bisa hidup senang di Jakarta tanpa loe! Pasti gua
bakal sangat kesepian.”
Hatiku sedih mendengar
perkataannya. Aku terdiam, airmataku tak bisa lagi kubendung. Aku
mengambil posisi tidur membelakanginya. Akutak mau dia melihatku
menangis. Aku terflashback dengan semua kenangan indah yang kami
lalui bersama. Aku sangat menyayangi Rio, dia bahkan lebih kusayangi
daripada saudaraku sendiri, perjuangannya dan kesetiaannya, itulah yang
membuatku sangat sedih dengan perpisahan ini. Airmataku terus mengalir
hingga akhirnya aku tertidur.
***
Pengumuman
SNMPTN sudah keluar. Aku tidak lulus dalamujian tersebut, akan tetapi
Rio terdaftar sebagai salah satu mahasiswa sastra Inggris di Universitas
Indonesia.
“Tenang ya, masih ada ujian Akpar Medan.
Mungkin bukan takdir loe di ITB. Mungkin Tuhan udah nempatin takdir loe
di Akpar Medan. Gua yakin kalau ntar loe pasti masuk di sana. Tetap
optimis!” ungkapnya sambil menyemangatiku dan merangkul bahuku. Aku
hanya bisa tersenyum. Yang kusedihkan saat itu bukanlah ketidaklulusanku
di ITB, melainkan jarak Medan-Jakarta yang sangat jauh, berada di dua
pulau yang berbeda, yang dipisahkan oleh Selat Sunda. Kami pasti akan
sangat jarang untuk berjumpa.
“Ayok gua anter lo daftar ke Akpar Medan,” ajaknya.
“Oke, thanks, Yo,” jawabku.
Saat
itu kami langsung menuju Akpar Medan untuk mengambil formulir dan
membayar uang pendaftaran. Dari mulai pendaftaran hingga pengumuman
kelulusan, Rio sangat setia menemaniku. Akhirnya,aku terdaftar sebagai
salah satu mahasiswa jurusan Pariwisata program studi Manajemen Usaha
Perjalanan (MUP) di Akademi Pariwisata Medan. Rio sangat senang saat
itu, dia bahkan lebih senang dariku. Dia langsung mengajakku pergi city
sightseeing kota Medan, dia berjanji akan mentraktirku supaya aku tidak
menolak ajakannya. Padahal tanpa ditraktirpun, aku akan meng-iya-kan
ajakannya. Satu harian kami mengelilingi kota Medan dengan sepeda motor
Rio, sepeda motor yangmenemani hari-hari kami selama tiga tahun dari
mulai masuk SMA. Sebelum mengakhiri perjalanan, kami singgah di Gereja
Imanuel, tempat di mana ketika kami masih duduk di kelas 2 SMP, kami
pernah berjanji satu sama lain di hadapanTuhan bahwa kami akan
mempertahankan persahabatan ini hingga maut memisahkan, serumit apapun
masalah yang akan terjadi di antara kami. Di sana kami berdoa agar Tuhan
menjaga kami hingga kami berjumpa lagi nantinya setelah tamat dari
perguruan tinggi, memberikan kami masa depan yang indah, dan memberkati
kami dimanapun dan kapanpun. Dan di tempat itulah untuk pertama kalinya
aku melihat Rio menangis tersedu sambil berdoa. Aku tidak tahu doa apa
yang dipanjatkannya kepada Yang Kuasa, yang jelas aku bisa melihat
kesedihannya sangat mendalam saat itu. Setelah siap berdoa, kami
langsung pulang menuju rumah. Malam itu aku mengajak Rio menginap di
rumahku, tapi dia menolak. Untuk pertama kalinya dia menolak ajakanku
untuk menginap di rumahku. Aku tidak terlalu mempermasalahkannya.
"Mungkin dia butuh waktu untuk sendiri," pikirku.
Beberapa
hari kemudian, tibalah saatnya untuk Rio berangkat ke Jakarta untuk
melanjutkan pendidikannya di sana. Saat itu aku ikut mengantarnya ke
bandara Polonia Airport Medan. Tampak raut wajahnya sangat sedih ketika
melihat wajahku. Aku mencoba tersenyum kepadanya agardia tetap semangat
nantinya di sana. Aku masih ingat jelas, sebelum memasuki kawasan khusus
pemegang tiket, dia memelukku erat.
“Jaga diri loe,
sobat. Gua pergi takkan lama, kita pasti bertemu lagi nantinya. Loe
boleh cari orang lain yang sama seperti gua untuk menjaga loe selama gua
gak ada, biar dia ntar yang jagain loe dari oranglain yang jahatin loe.
Sampai jumpa lagi, sobat. Gua bakal rindu banget ma loe! Loe merupakan
saudara gua satu-satunya yang pernah ada di dunia ini,” ungkapnya dari
hatinya yang paling dalam.
“Loe juga baik-baik di sana.
Jangan terikut dengan pergaulan bebas di sana. Ingat, tujuan loe ke
sana itu untuk belajar! Jauhi drugs, apalagi seks bebas! Oke?” jawabku
sambil membalas pelukannya.
Kurasakan dia mengangguk di
bahuku. Akhirnya diapun berangkat ke Jakarta. Aku pulang dengan berjuta
ucapan syukur kepada Tuhan karena telah menganugerahkan seorang sahabat
yang benar-benar setia padaku dalam keadaan apapun, yang orang lain
belum tentu dapatkan.
***
2 tahun kemudian …
Aku iseng main ke rumah Rio untuk berkunjung sekaligus bertanya kenapa Rio tak pernah pulang meskipun ada libur panjang. Selama ini aku sudah mencoba menghubungi Rio melalui akun jejaring sosialnya tapi tak pernah ada balasan. Nomor handphone Rio juga sudah ganti beberapa bulan setelah dia di Jakarta, tanpa ada pemberitahuan padaku. Orangtuanya hanya terdiam. Aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres yang disembunyikan oleh mereka. Aku mencoba meyakinkan mereka hingga akhirnya mereka memberitahukan kalau Rio sedang sakit parah di Jakarta. Sekarang dirawat di salah satu rumah sakit swasta di sana. Jawaban tersebut sekaligus menjawab pertanyaanku selama ini, kenapa kedua orangtua Rio sering ke Jakarta? Seminggu bisa dua kali. Orangtua Rio juga bilang kalau Rio sudah berhenti kuliah sebelum memasuki semester dua.
“Kebetulan
hari Sabtu ini, ibu dan bapak akan berkunjung ke sana. Kami ingin
mengajak kamu ke sana, kamu mau ‘kan? Tenang saja, biaya pesawat
terbang, ibu dan bapak yang akan menanggungnya,” ajak ibunya Rio.
“Ya, bu. Saya akan ikut dan pasti ikut,” jawabku sedih dan serius.
Hari Sabtu …
Akhirnya
kami tiba di rumah sakit di mana Rio dirawat. Kami langsung menuju
kamar, tempat di mana Rio terbaring. Sebelum masuk, ibuRio
mengingatkanku kalau Rio terkena penyakit HIV! Aku sangat terkejut, aku
sedih, aku bertanya pada Tuhan bagaimana Dia bisa membiarkan Rio terkena
penyakit tersebut! Aku sedih sekali, aku menangis tersedu-sedu melihat
keadaan Rio terbaring lemah saat itu dari jendela kamar tempat dia
dirawat. Aku menghapus airmataku sebelum memasuki kamar, aku berusaha
tersenyum. Dia melihat ke arahku, tapi kemudian menoleh ke arah yang
lain. Dia tak mau melihatku karena kurasa dia malu dengan keadaannya.
Aku kemudian memulai pembicaraan.
“Yo, gua gak perduli
dengan apa yang loe lakuin hingga loe bisa seperti ini, tapi gua marah
sama loe karena loe gak ada kabar sama sekali! Apa maksud loe diamin
gua?” tanyaku kesal sambil menahan tangis.
Rio tidak menjawab pertanyaanku, tapi aku bisa melihat dia sedang menutupi tangisannya dariku.
“Sekarang
sudah begini, apalagi yang bisa kita lakukan kecuali berdoa
mengharapkan keajaiban! Sekarang gua uda di sini, gua bakalan ijin sama
orangtua gua untuk cuti kuliah biar gua bisa merawat loe sampai loe
sembuh!” kataku.
Dia menangis sejadi-jadinya. Dia
melihatku dengan penuh kasih. Hatiku hancur, sahabatku, satu-satunya
manusia yang mengerti aku, sekarang terbaring lemah di rumah sakit
dengan penyakit menular yang sangat parah. Aku hanya bisa menangis
melihat keadaannya. Tak tahan lagi dengan rasa sedih ini, aku langsung
menuju ke arahnya, memeluknya erat, tak perduli sedikitpun akan tertular
penyakitnya!
“Aku sangat menyayangi sahabatku yang
satu ini ya Tuhan, kenapa harus begini?” rintihku dalam hati kepada Yang
Kuasa sambil memeluk erat tubuh Rio.
***
Orangtuaku
mengijinkanku cuti dan mereka siap mengurus surat cutiku dari kampus.
Kedua orangtuaku memang sudah tahu lama semua tentang persahabatan kami
ini, mereka memaklumi keputusanku dan juga mendukungku.
Hari-hari
kulewati untuk merawat Rio di rumah sakit. Pihak rumah sakit bahkan
telah menyediakan satu kasur bagiku di dalam kamar Rio karena tidak tega
melihatku selama ini tidur di sofa. Enam bulan kemudian kesehatan Rio
sudah mulai membaik. Kata dokter, virus HIV yang ada di tubuh Rio tidak
lagi bereproduksi. Aku sangat senang mendengar kabar baik tersebut,
begitupun dengan Rio dan kedua orangtuanya. Akupun semakin semangat
merawat Rio agar dia cepat sembuh. Aku percaya keajaiban itu ada. Tuhan
tahu yang terbaik buat Rio. Tuhan telah sediakan rencana yang indah buat
Rio.
Dini hari pukul 1 pagi, sekitar dua bulan setelah
membaiknya kesehatan Rio, aku terkejut karena tiba-tiba suhu tubuh Rio
naik drastis. Aku melihat Rio hanya tersenyum, sambil memberikanku
sebuah surat.
“Rio, jangan pergi. Loe gak boleh
ninggalin gua sendiri. Rio, loe gak boleh mati. Ya Tuhan, aku masih
butuh Rio ya Tuhan,” ucapku keras.
Aku langsung teriak
memanggil dokter agar Rio segera mendapatkan pertolongan. Tapi, belum
lagi dokter datang, Rio sudah menghembuskan nafas untuk terakhir
kalinya. Aku menangis sejadi-jadinya. Berkali-kali aku memanggil nama
Rio, berharap agar dia kembali hidup, akan tetapi memang sudah tidak ada
harapan lagi, dia sudah pergi untuk selamanya.
Kini
semua tinggal kenangan. Surat terakhir Rio mewakili semua pertanyaanku
selama ini. Selamat jalan teman. Aku akan selalu mengingatmu selamanya,
tunggu aku di sana. Aku akan selalu merindukanmu. Tuhan memberkatimu…
Buat sahabatku di sana, satu-satunya saudaraku di dunia,
Maafkan
aku yang telah mengecewakanmu. Maafkan aku yang tak pernah memberikan
kabar padamu. Maafkan aku yang tak mendengar pesan terakhirmu sebelum
aku berangkat ke Jakarta. Maafkan aku sobatku.
Aku membuat surat ini karena aku yakin hidupku tidak akan lama lagi di
dunia. Aku ingin kau tahu beberapa hal yang kusembunyikan selama kita
bersama.
Aku masih ingat di awal perjumpaan
kita di depan rumahmu, ketika aku dan keluargaku baru saja pindah ke
ruko sebelah rumahmu. Aku tahu kita masih berusia lima tahun saat itu
dan kemungkinan untuk mengingat hal itu sangatlah tidak mungkin. Tapi
tidak denganku, itu sangatlah spesial bagiku! Kau langsung mengajakku
bermain. Apakah kau tahu alasan kenapa kami pindah dari rumah
sebelumnya? Itu semua karena aku tidak memiliki teman disana. Kau tahu
sendiri aku sangat sulit untuk memulai pertemanan dengan oranglain,
kecuali mereka mengajakku berkenalan terlebih dahulu. Itu memang sifat
alamiku dari kecil. Orangtuaku takut itu akan berpengaruh buruk untuk
perkembangan sosialku, jadi mereka memutuskan untuk pindah ke tempat
lain, yang di dalamnya terdapat banyak anak seumuranku saat itu. Dan
ketika kami baru saja tiba di rumah baru tersebut, kau langsung
mendatangiku dan mengajakku bermain. Entah kenapa aku langsung mudah
bergaul denganmu. Aku merasa kita memiliki banyak kecocokan dan selera
yang sama. Itulah yang membuatku sayang padamu. Dan kau harus tahu
ketika kita untuk pertama kalinya mengucapkan janji menjaga persahabatan
kita di depan Tuhan di Gereja Imanuel, ketika kita masih SMP, saat itu
aku juga berjanji pada Tuhan bahwa aku akan selalu menjagamu hingga
akhir hayatku. Untuk itulah kenapa aku tak pernah membiarkanmu sendiri
terlalu lama tanpaku di sampingmu. Aku tak ingin kau dilukai oleh orang
lain.
And I never thought I'd feel this way
And as far as I'm concerned
I'm glad I got the chance to say
That I do believe I love you
And if I should ever go away
Well then close your eyes and try
To feel the way we do today
And then if you can remember
Keep smiling, keep shining
Knowing you can always count on me, for sure
That's what friends are for
For good times and bad times
I'll be on your side forever more
That's what friends are for
Well you came in loving me
And now there's so much more I see
And so by the way I thank you
Oh and then for the times when we're apart
Well then close your eyes and know
The words are coming from my heart
And then if you can remember - Song Lyric : That's What Friends Are For
And as far as I'm concerned
I'm glad I got the chance to say
That I do believe I love you
And if I should ever go away
Well then close your eyes and try
To feel the way we do today
And then if you can remember
Keep smiling, keep shining
Knowing you can always count on me, for sure
That's what friends are for
For good times and bad times
I'll be on your side forever more
That's what friends are for
Well you came in loving me
And now there's so much more I see
And so by the way I thank you
Oh and then for the times when we're apart
Well then close your eyes and know
The words are coming from my heart
And then if you can remember - Song Lyric : That's What Friends Are For
Sahabatku, apapun yang terjadi nantinya, aku harap kau bisa menerima kenyataan yang ada. Aku yakin sekarang kau sudah cukup dewasa untuk bisa hidup tanpaku. Selama di dunia aku tidak meminta apa-apa pada Tuhan, karena aku sudah cukup bahagia dengan adanya kau disisiku, tapi untuk kali ini aku berdoa pada-Nya agar cita- citamu tercapai sahabatku. Maafkan aku sahabatku, aku hanya bisa menemanimu secepat ini. Rencana kita untuk traveling bersama ketika kau sudah jadi seorang guide, kini hanya sebuah kenangan. Jangan pernah lupakan aku sahabatku, hanya kau saudaraku di dunia ini! Yang menyayangiku dengan sepenuh hati! Aku mencintaimu dan menyayangimu selalu. Terima kasih karena kau sudah datang untuk merawatku sebelum aku pergi untuk selama-lamanya. Tuhan memberkatimu sahabatku. Sampai ketemu di rumah Bapa di sorga…
Rio
Created by : Lamtota Banjarnahor
Tidak ada komentar:
Posting Komentar