Senin, 11 November 2013

Purnama Merindu

Jam sudah menunjukkan pukul 00:39 tapi mataku tak kunjung mau diajak tidur. Kucoba menyalakan laptopku untuk menghidupkan suasana dan memutar beberapa lagu melankolis yang kupikir nantinya membawaku menuju tidur lelapku. Ketika asyik mendengar alunan lagu yang dinyanyikan oleh Bunga Citra Lestari – Cinta Pertama, tiba-tiba tanpa disengaja aku teringat akan masa-masa PKL (Praktek Kerja Lapangan) tiga bulan di BBLKI (Balai Besar Latihan Kerja Industri) Medan. Sekilas aku merasa kesepian, sedih, rindu, dan ingin rasanya mengulang masa-masa itu kembali.

Aku teringat akan kenangan di mana aku, Margaretha, Jerry, dan Yosefhin, merasakan kebahagiaan dan kesedihan bersama-sama. Aku masih ingat jelas dulunya Yosefhin sering mentraktir kami beli jajanan, bawain kami sarapan atau makan siang. Aku juga masih ingat jelas tingkah aneh Yosefhin yang terlalu sopan atau gimana, asal jumpa orang yang lebih tua, disapa terus disalam. Aku juga masih ingat kepolosan kami. Polos? Ya, saat itu kami memang masih sangat polos. Kenapa begitu? Pertanyaan yang bagus. Ceritanya begini, BBLKI Medan itu letaknya di sebuah gang yang panjang dan berada di paling ujung gang tersebut. Nah, di sinilah letak kepolosan kami itu. Di sepanjang gang itu,kami melihat banyak sekali plastik warna pink, berbentuk kotak, dan kalau diraba, terasa kenyal. Tahukah Anda apa itu? Itu kondom! Ya, ternyata gang tersebut merupakan tempat para waria menjajakan dirinya di malam hari. Dan kami sama sekali tidak tahu apa itu selama sebulan lebih, hanya melewatinya saja setiap harinya. Hingga akhirnya, aku coba mengambil beberapa di antaranya, kubawa ke kantor, dan pada waktu jam istirahat, seperti biasa kami berkumpul dikantor ‘KIOS 3IN1’, tempat di mana aku, Jerry, dan Yosefhin ditempatkan (hanya Margaretha yang berada di kantor lain). Setelah siap makan siang, aku coba buka plastik pink berbentuk kotak tersebut, dan saat itulah kami sama-sama tahu bahwa isinya ternyata kondom! Kami tertawa terbahak-bahak saat itu juga. Aku sangat merindukan masa-masa itu.

Aku masih ingat dengan Margaretha yang dari dulu hingga sekarang masih berpuisi sana-sini, menciptakan karya cerpen pribadi penuh arti, menyanyikan lagu keras-keras membuat orang yang berada disampingnya merasa risih dan jengkel. Aku masih ingat itu semua! Aku masih ingat keras kepalanya yang membuatnya menjadi kesepian! Percaya atau tidak, aku bisa merasakan apa yang kau rasakan saat itu, Margaretha. Meskipun begitu, dari awalaku mengenalmu, aku sudah yakin bahwa kau akan menjadi sahabat sejatiku. Dan ternyata memang benar, sampai saat ini kita masih sering ketemuan, bercanda,membicarakan hal bodoh yang terkadang adalah rahasia hidup kita sendiri, membicarakan rahasia yang benar-benar rahasia, dan masih banyak hal yang kita lakukan hingga saat ini. Aku berterima kasih banyak kepada Tuhan atas kehadiranmu sebagai sahabatku, aku tidak akan pernah menyia-nyiakanmu, aku berjanji akan menjagamu dan membahagiakanmu semampuku selama kau bersamaku. Maafkan aku yang terkadang temperamental, aku menyadari itu. Kerap sekali ketika aku baru saja memarahimu, aku ingin meminta maaf, tapi aku tidak memiliki keberanian yang cukup untuk mengatakannya. Aku harap kau maklum ya, Margaretha.

Aku juga masih ingat, saat kami masih PKL, Jerry mengambil pekerjaan sampingan sebagai waitress (casual). Setiap pulang PKL, dia pasti langsung bergegas pergi ke tempat kerja karena takut terlambat. Ada satu hal yang paling berkesan dan takkan pernah kulupakan, saat di mana aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan menyayangi Jerry selamanya sebagai sahabatku, bagaimanapun masalah yang akan terjadi di antara kami. Hal apa itu? Suatu hari, sebelum tanggal 3 Oktober 2010, aku mengajak Jerry ke Carrefour untuk membeli kado buat sahabat SD-ku. Dia dengan senang hati menemaniku padahal aku dulunya cuek dan kerap sekali membuatnya marah dan jengkel, apalagi kecewa. Sudah begitupun baiknya dia saat itu, mataku belum juga terbuka untuk melihat betapa tulusnya persahabatan yang ditawarkan oleh Jerry padaku saat itu. Cerita belum selesai sampai di situ saja, ketika kami selesai membeli kado, aku terdiam sejenak ketika Jerry mengatakan, “Makan yok, Ta? Aku yang traktir, aku baru gajian nih.” Wah, alangkah bodohnya aku, kenapa mataku baru terbuka saat itu? Kenapa tidak dari kemarin? Aku coba bilang padanya, “Gak usah Jer, kita pulang aja. Kau simpan aja uangmu.” Kamipun akhirnya pulang dan selama perjalanan pulang ke rumah, aku berjanji pada diriku bahwa aku tidak akan pernah lagi mengecewakan Jerry bagaimanapun kesalahan yang nantinya dia perbuat. Tapi tahukah apa cerita selanjutnya? Aku dilanda karma. Di saat aku benar-benar ingin bersahabat dengan Jerry, aku ditinggalkannya, dia punya teman baru yang jauh lebih baik dari aku. Aku hanya bisa pasrah, menangisi kebodohan yang telah kuperbuat. Sejak saat itu, aku belajar untuk menghargai setiap orang yang mencoba bersahabat denganku, aku tidak lagi tertutup seperti sebelumnya.

                Apa kabar Yosefhin? Kenapa tidak ada kabar sama sekali? Tidakkah kau merindukanku? Aku rindu Yosefhin, aku sangat rindu padanya! Di mana dirimu sekarang, Yosefhin? Aku ingin jumpa denganmu, aku ingin memelukmu, aku ingin meluapkan semua emosi kerinduan yang ada dalam diriku padamu. Aku menyesal karena telah menjauhimu hanya karena masalah sepele yang kau perbuat terhadapku. Maafkan aku, Yosefhin. Yosefhin, dimanapun kau berada saat ini, apabila kau membaca tulisan ini, aku berharap kau langsung menghubungiku. Aku sangat merindukanmu, setidaknya kalaupun aku tidak bisa berjumpa denganmu, aku ingin mendengarkan suaramu ito-ku! Aku rindu perhatian yang kau berikan padaku, aku rindu makan siangmu, aku rindu lelucon gilamu, aku rindu semuanya! Aku dan Margaretha sering membuatmu sebagai bahan obrolan kami beberapa tahun belakangan ini. Kami membicarakanmu, kami ingin tahu kau di mana sekarang. Kami sangat merindukanmu Yosefhin.

Dedicated for :
1. Margaretha Ayu Bawaulu
2. Jerry Fan Yudika Siallagan.
3. Yosefhin Rika Ernima Lumbanbatu

Created by : Lamtota Banjarnahor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar