Jam sudah menunjukkan pukul 00:39 tapi mataku tak kunjung mau diajak
tidur. Kucoba menyalakan laptopku untuk menghidupkan suasana dan memutar
beberapa lagu melankolis yang kupikir nantinya membawaku menuju tidur
lelapku. Ketika asyik mendengar alunan lagu yang dinyanyikan oleh Bunga
Citra Lestari – Cinta Pertama, tiba-tiba tanpa disengaja aku teringat
akan masa-masa PKL (Praktek Kerja Lapangan) tiga bulan di BBLKI (Balai
Besar Latihan Kerja Industri) Medan. Sekilas aku merasa kesepian, sedih,
rindu, dan ingin rasanya mengulang masa-masa itu kembali.
Aku
teringat akan kenangan di mana aku, Margaretha, Jerry, dan Yosefhin,
merasakan kebahagiaan dan kesedihan bersama-sama. Aku masih ingat jelas
dulunya Yosefhin sering mentraktir kami beli jajanan, bawain kami
sarapan atau makan siang. Aku juga masih ingat jelas tingkah aneh
Yosefhin yang terlalu sopan atau gimana, asal jumpa orang yang lebih
tua, disapa terus disalam. Aku juga masih ingat kepolosan kami. Polos?
Ya, saat itu kami memang masih sangat polos. Kenapa begitu? Pertanyaan
yang bagus. Ceritanya begini, BBLKI Medan itu letaknya di sebuah gang
yang panjang dan berada di paling ujung gang tersebut. Nah, di sinilah
letak kepolosan kami itu. Di sepanjang gang itu,kami melihat banyak
sekali plastik warna pink, berbentuk kotak, dan kalau diraba, terasa
kenyal. Tahukah Anda apa itu? Itu kondom! Ya, ternyata gang tersebut
merupakan tempat para waria menjajakan dirinya di malam hari. Dan kami
sama sekali tidak tahu apa itu selama sebulan lebih, hanya melewatinya
saja setiap harinya. Hingga akhirnya, aku coba mengambil beberapa di
antaranya, kubawa ke kantor, dan pada waktu jam istirahat, seperti biasa
kami berkumpul dikantor ‘KIOS 3IN1’, tempat di mana aku, Jerry, dan
Yosefhin ditempatkan (hanya Margaretha yang berada di kantor lain).
Setelah siap makan siang, aku coba buka plastik pink berbentuk kotak
tersebut, dan saat itulah kami sama-sama tahu bahwa isinya ternyata
kondom! Kami tertawa terbahak-bahak saat itu juga. Aku sangat merindukan
masa-masa itu.
Aku masih ingat dengan Margaretha yang
dari dulu hingga sekarang masih berpuisi sana-sini, menciptakan karya
cerpen pribadi penuh arti, menyanyikan lagu keras-keras membuat orang
yang berada disampingnya merasa risih dan jengkel. Aku masih ingat itu
semua! Aku masih ingat keras kepalanya yang membuatnya menjadi kesepian!
Percaya atau tidak, aku bisa merasakan apa yang kau rasakan saat itu,
Margaretha. Meskipun begitu, dari awalaku mengenalmu, aku sudah yakin
bahwa kau akan menjadi sahabat sejatiku. Dan ternyata memang benar,
sampai saat ini kita masih sering ketemuan, bercanda,membicarakan hal
bodoh yang terkadang adalah rahasia hidup kita sendiri, membicarakan
rahasia yang benar-benar rahasia, dan masih banyak hal yang kita lakukan
hingga saat ini. Aku berterima kasih banyak kepada Tuhan atas
kehadiranmu sebagai sahabatku, aku tidak akan pernah menyia-nyiakanmu,
aku berjanji akan menjagamu dan membahagiakanmu semampuku selama kau
bersamaku. Maafkan aku yang terkadang temperamental, aku menyadari itu.
Kerap sekali ketika aku baru saja memarahimu, aku ingin meminta maaf,
tapi aku tidak memiliki keberanian yang cukup untuk mengatakannya. Aku
harap kau maklum ya, Margaretha.
Aku juga masih ingat,
saat kami masih PKL, Jerry mengambil pekerjaan sampingan sebagai
waitress (casual). Setiap pulang PKL, dia pasti langsung bergegas pergi
ke tempat kerja karena takut terlambat. Ada satu hal yang paling
berkesan dan takkan pernah kulupakan, saat di mana aku berjanji pada
diriku sendiri bahwa aku akan menyayangi Jerry selamanya sebagai
sahabatku, bagaimanapun masalah yang akan terjadi di antara kami. Hal
apa itu? Suatu hari, sebelum tanggal 3 Oktober 2010, aku mengajak Jerry
ke Carrefour untuk membeli kado buat sahabat SD-ku. Dia dengan senang
hati menemaniku padahal aku dulunya cuek dan kerap sekali membuatnya
marah dan jengkel, apalagi kecewa. Sudah begitupun baiknya dia saat itu,
mataku belum juga terbuka untuk melihat betapa tulusnya persahabatan
yang ditawarkan oleh Jerry padaku saat itu. Cerita belum selesai sampai
di situ saja, ketika kami selesai membeli kado, aku terdiam sejenak
ketika Jerry mengatakan, “Makan yok, Ta? Aku yang traktir, aku baru
gajian nih.” Wah, alangkah bodohnya aku, kenapa mataku baru terbuka saat
itu? Kenapa tidak dari kemarin? Aku coba bilang padanya, “Gak usah Jer,
kita pulang aja. Kau simpan aja uangmu.” Kamipun akhirnya pulang dan
selama perjalanan pulang ke rumah, aku berjanji pada diriku bahwa aku
tidak akan pernah lagi mengecewakan Jerry bagaimanapun kesalahan yang
nantinya dia perbuat. Tapi tahukah apa cerita selanjutnya? Aku dilanda
karma. Di saat aku benar-benar ingin bersahabat dengan Jerry, aku
ditinggalkannya, dia punya teman baru yang jauh lebih baik dari aku. Aku
hanya bisa pasrah, menangisi kebodohan yang telah kuperbuat. Sejak saat
itu, aku belajar untuk menghargai setiap orang yang mencoba bersahabat
denganku, aku tidak lagi tertutup seperti sebelumnya.
Apa kabar Yosefhin? Kenapa tidak ada kabar sama sekali? Tidakkah kau
merindukanku? Aku rindu Yosefhin, aku sangat rindu padanya! Di mana
dirimu sekarang, Yosefhin? Aku ingin jumpa denganmu, aku ingin
memelukmu, aku ingin meluapkan semua emosi kerinduan yang ada dalam
diriku padamu. Aku menyesal karena telah menjauhimu hanya karena masalah
sepele yang kau perbuat terhadapku. Maafkan aku, Yosefhin. Yosefhin,
dimanapun kau berada saat ini, apabila kau membaca tulisan ini, aku
berharap kau langsung menghubungiku. Aku sangat merindukanmu, setidaknya
kalaupun aku tidak bisa berjumpa denganmu, aku ingin mendengarkan
suaramu ito-ku! Aku rindu perhatian yang kau berikan padaku, aku rindu
makan siangmu, aku rindu lelucon gilamu, aku rindu semuanya! Aku dan
Margaretha sering membuatmu sebagai bahan obrolan kami beberapa tahun
belakangan ini. Kami membicarakanmu, kami ingin tahu kau di mana
sekarang. Kami sangat merindukanmu Yosefhin.
Dedicated for :
1. Margaretha Ayu Bawaulu
2. Jerry Fan Yudika Siallagan.
3. Yosefhin Rika Ernima Lumbanbatu
Created by : Lamtota Banjarnahor
Tidak ada komentar:
Posting Komentar